fb twitter instagram youtube whatsapp
Blog > Polemik Pendidikan STEM Pasca-Pandemi

admin August 13, 2020

Polemik Pendidikan STEM Pasca-Pandemi

Semenjak diumumkannya kasus COVID19 yang terus meningkat di Indonesia, pemerintah bergegas menerapkan partial lockdown yang lebih sering dikenal oleh masyarakat dengan istilah PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). PSBB memiliki implikasi kepada kehidupan rakyat Indonesia, di mana disrupsi terjadi tanpa mengecualikan sektor mana pun. Sektor pendidikan menjadi salah satu korban disrupsi yang diakibatkan oleh COVID19. Dari jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi, semua institusi pendidikan telah diarahkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Surat Edaran Mendikbud Nomor 4 Tahun 2020. Pada provinsi DKI Jakarta, arahan untuk melakukan pembelajaran dari rumah atau pembelajaran jarak jauh sudah dihimbau oleh Dinas Pendidikan setempat dan diterapkan semenjak bulan Maret. Sampai saat ini, hal tersebut akan terus dilanjutkan hingga tahun ajaran baru.



Beberapa sekolah di luar provinsi DKI Jakarta memiliki privilese untuk tetap menggunakan model pembelajaran tatap langsung. Tetapi hal tersebut tetap menjadi polemik bagi masyarakat, khususnya di kalangan guru dan orang tua murid yang masih memiliki rasa kekhawatiran terhadap kurva kasus COVID19 di Indonesia yang terus menanjak. Membuka kembali sekolah untuk melaksanakan pembelajaran dalam kelas dapat menyebabkan kluster COVID19 muncul. Data yang kurang representatif dan bahkan kontradiktif antara pusat dan provinsi hanya meningkatkan risiko terjadinya kesalahan dalam pengambilan keputusan terkait membuka sekolah. Tanpa pembelajaran tatap muka, sekolah dan murid terpaksa untuk beradaptasi dengan menggunakan teknologi. Peran yang dimiliki oleh penyedia jasa pembuatan kelas online, kuis dan formulir online, sampai layanan video conference call sangat krusial dalam membantu mempermudah dan memastikan pembelajaran jarak jauh dapat mereplika kegiatan pembelajaran dalam kelas. Teknologi yang digunakan oleh sekolah maupun murid ini juga mengingatkan kita terhadap satu hal penting: bahwasanya teknologi akan menjadi bagian integral bagi kehidupan manusia dan potensi kita sebagai negara dengan jumlah penduduk terbanyak keempat di dunia untuk bersumbangsih dalam dunia teknologi sudah seharusnya menjadi fokus kita dalam membangun pendidikan dalam negeri.


Ditengah pandemi global, lapangan kompetisi antar negara dalam berinovasi menjadi lebih merata. Munculnya peluang di bidang teknologi dan di dunia internet dapat menjadi jawaban bagi hilangnya lapangan kerja yang diakibatkan oleh COVID19. Tulang-punggung yang akan menopang generasi baru dalam menghadapi disrupsi di era digital bermula dari pendidikan dasar yang dikukuhkan dengan prinsip STEM. Istilah STEM mengacu kepada pembelajaran dan pengajaran di bidang Science, Technology, Engineering, dan Mathematics. Prinsip STEM umumnya termasuk aktivitas belajar-mengajar dari tingkat taman kanak-kanak (TK) hingga pasca-doktor dalam aspek formal (pembelajaran dalam kelas) maupun informal (program ekstensi, tempat belajar ekstensif). Pemerintah menerapkan kurikulum 2013 (K-13) dalam upaya untuk meningkatkan implementasi pembelajaran STEM dengan melakukan penambahan kemampuan dan ilmu bagi guru di Indonesia. Dengan jumlah penduduk di bawah umur 40 tahun sebanyak 60% dari total jumlah penduduk keseluruhan yang didukung dengan laju adopsi internet oleh masyarakat umum yang sudah mencangkup 65% semenjak tahun 2018, Indonesia dapat menjadi lapangan kerja yang luas bagi generasi sekarang maupun yang akan datang.


Menurut firma konsultan A.T Kearney, ekonomi internet Indonesia diprediksi akan bertumbuh lebih dari 100 miliar AS dollar hingga tahun 2025. Akan tetapi, pendidikan di Indonesia hanya mampu mencetak sebanyak 278 insinyur baru yang berkualifikasi per satu juta orang setiap tahunnya10. Hal ini menunjukkan suatu paradoks di mana potensi yang ada pada pasar tidak bisa dipuaskan oleh pasokan tenaga kerja dan kualifikasinya sementara ini. Pemerintah menyadari ini dan segera merumuskan undang-undang serta strategi agar ekonomi internet lokal dapat dimanfaatkan sebagai sumber kesejahteraan rakyatnya. Tentu saja tetapi, tingkat literasi teknologi masyarakat Indonesia masih kurang baik. Pada survei APJII pada tahun 2017 menggambarkan angka penetrasi internet di perkotaan dan pedesaan ialah 72,41% vs 48,25%. Akan tetapi, kita bisa memahami pada survei yang sama bahwa mayoritas pengguna berada pada rentang usia 15 – 19 tahun, dan hanya 16,2% yang berusia di atas 60 tahun11. Hal ini menunjukkan optimisme bahwa pada kalangan anak muda di usia sekolah, mereka memiliki literasi digital lebih baik dari generasi sebelumnya. Dengan dorongan dari aspek biaya untuk memiliki teknologi semakin kompetitif dan informasi mengenai cara menggunakan alat elektronik maupun perangkat lunak tertentu sangat mudah dicari di era informasi, generasi baru Indonesia memiliki peluang yang sangat tinggi untuk lebih memahami internet dan teknologi dibanding generasi sebelumnya.



Benang merah antara internet dan STEM akan ditemukan dengan jelas saat kita melihat secara menyeluruh apa yang terjadi dengan situasi dunia edukasi Indonesia sekarang. Kedua hal tersebut membutuhkan satu sama lainnya. Prinsip STEM yang diajarkan sejak dini oleh sistem pendidikan Indonesia akan menghasilkan calon pelaku pasar yang memiliki modal keterampilan dan pemahaman yang lebih komprehensif, analitis, dan teknis. Profil ini akan membantu menembuskan inovasi maupun ide baru kepada dunia ekonomi internet dan dunia digital. Di samping itu, dengan munculnya inovasi dan keterampilan baru, maka muncul juga potensi lapangan kerja yang bisa dimanfaatkan dari menguasai keterampilan-keterampilan tersebut. Sekarang, tanggung jawab untuk mengamankan masa depan negara ada ditangan pemerintah dan institusi pendidikan. Pemerintah harus lebih tepat dalam memformulakan peraturan dan mengkaji ulang lagi kerangka sistem pendidikan di Indonesia, serta lebih agresif lagi dalam mewujudkan insentif bagi sekolah-sekolah yang mampu mencetak tenaga kerja yang lebih kompetitif dan kompeten, sehingga memunculkan lingkungan persaingan yang dapat mendorong pertumbuhan sekolah-sekolah di Indonesia. Institusi pendidikan harus lebih agresif lagi dalam merumuskan arah belajar yang diterapkan dimasing-masing sekolah, apakah sudah tepat dalam mencetak keterampilan dan kemampuan yang dibutuhkan di era pasca-pandemi.


Dengan memilih perlengkapan fasilitas dan kurikulum yang tepat, maka kedua pemerintah dan institusi pendidikan dapat bekerja secara sinergis dalam menghasilkan lapangan kerja. Pekerjaan yang akan diambil maupun digantikan oleh teknologi industri 4.0 seperti artificial intelligence, robotic process automation, dan lainnya tidak lagi berupa prediksi melainkan sudah mulai terjadi secara masif dan terakselerasi akibat terjadinya pandemi. Tenaga kerja masa depan Indonesia, yang merupakan para pelajar sekarang yang menghadapi pandemi, harus menyadari tantangan di masa yang akan datang dan memahami teknologi yang akan mendisrupsi dunia secara global.


Sumber :
1 https://www.thejakartapost.com/academia/2020/06/02/online-stem-learning-helps-digital-natives-to-thrive.html
2 https://pusdiklat.kemdikbud.go.id/surat-edaran-mendikbud-no-4-tahun-2020-tentang-pelaksanaan-kebijakan-pendidikan-dalam-masa-darurat-penyebaran-corona-virus-disease-covid-1-9/
3 https://edukasi.kompas.com/read/2020/03/20/050000371/begini-metode-pembelajaran-jarak-jauh-disdik-dki-jakarta
4 https://www.kompas.com/tren/read/2020/08/08/060900165/sekolah-zona-kuning-boleh-buka-serikat-guru-khawatir-jadi-klaster-baru?page=all
5 https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-53691985
6 https://nasional.okezone.com/read/2020/05/27/337/2220339/pengamat-belum-saatnya-sekolah-dibuka-karena-masih-beresiko
7 Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) Education: A Primer Heather B. Gonzalez, Jeffrey J. Kuenzi, August 1, 2012
8. https://edukasi.kompas.com/read/2018/04/17/08010051/pemerintah-optimistis-mampu-terapkan-kurikulum-2013-tahun-ini?page=all
9. reuters.com/article/us-indonesia-bill-workers/indonesia-aims-to-plug-skills-shortage-in-booming-tech-sector-idUSKBN2081JF

Penulis : Hanif Ramadhan

Artikel Populer

Menjadi Robotics Engineer

September 18, 2020
Kategori

Artikel
(4)

Biomedical
(2)

Uncategorized
(10)