fb twitter instagram youtube whatsapp
Blog > Virtual Reality dan Motion Sickness: Mengapa Multiple Display Lebih Baik daripada Headset VR dalam Aplikasi Pelatihan Berbasis Simulator

admin September 17, 2020

Virtual Reality dan Motion Sickness: Mengapa Multiple Display Lebih Baik daripada Headset VR dalam Aplikasi Pelatihan Berbasis Simulator



Headset Virtual Reality terkini menggunakan prinsip teknologi yang sederhana: Ketika seorang pengguna headset VR menolehkan kepalanya, maka gerakan tersebut dideteksi oleh komponen elektronik yang memiliki tugas untuk melacak pergerakan kepala dan mentransmisi data tersebut kepada sebuah komputer. Komputer yang menerima data tersebut “menggambar ulang” apa yang pengguna headset lihat pada tampilan layer headset VR. Konsep ini dalam praktiknya dapat memunculkan masalah mabuk gerak atau lebih sering disebut motion sickness. Motion sickness pada Virtual Reality terjadi akibat diri kita dan objek dalam dunia virtual bergerak secara bersamaan, memberikan ilusi bahwa diri kita di dunia nyata sedang bergerak, padahal tidak ada perubahan kecepatan atau pergerakan yang terjadi secara nyata. Artikel ini akan membahas lebih dalam mengapa dapat terjadi motion sickness Ketika menggunakan headset Virtual Reality.

Motion Sickness pada pengguakan Virtual Reality simulator terjadi karena dua hal. Pertama, saat menggunakan headset Virtual Reality, pandangan kita (Field-of-View) terbatas hanya apa yang ada di depan kita. Konsep ini seperti kacamata kuda yang dipasangkan kepada kuda sehingga mereka tidak bisa melihat ke samping kanan maupun kiri. Akibat keterbatasan tersebut, pengguna headset VR harus memutarkan kepalanya untuk melihat apa yang ada di sebelah kanan, kiri, atas, dan bawah. Keterbatasan mendukung permasalahan kedua, yaitu keterlambatan atau delay yang terjadi ketika seseorang memutarkan kepalanya dan melihat ke arah baru yang diakibatkan oleh latency. Latency menyebabkan data yang ditransmisi oleh headset VR membutuhkan waktu untuk diproses oleh komputer, sehingga terkadang kita sudah menolehkan kepala kita, tetapi tampilan yang kita lihat belum menyesuaikan dengan orientasi arah pandangan kita.

Secara teknis, frame rate dari sebuah software simulator umumnya sekitar 30 Hz. Artinya, dalam waktu satu detik, komputer yang kita gunakan harus menyadari dan melacak gerakan kita sebanyak tiga puluh (30) kali, menentukan skena apa yang akan kita lihat ketika kita mengubah orientasi pengelihatan kita ke suatu arah tertentu, melakukan kalkulasi terkait perubahan tersebut, dan menggambarkan kembali skena yang akan kita lihat di dalam headset VR kita. Aktivitas ini memakan waktu yang cukup banyak (serta computing power juga).

Mengapa lebih baik menggunakan multiple display dibandingkan dengan headset VR?


Dalam dunia nyata, seorang operator dapat memutarkan kepalanya secepat mungkin dan melihat ke suatu arah tanpa adanya keterlambatan atau delay. Ketika seorang operator melihat kedepan, mereka tidak terbatas hanya melihat ke orientasi arah depan, tetapi dapat juga melihat sedikit ke arah kanan, kiri, atas, dan awah. Pandangan mata kita dan seberapa leluasa kita dapat melihat sekeliling kita adalah kunci utama dalam mengoperasikan alat berat di dunia nyata. Kita bergantung kepada kemampuan kita untuk dapat melihat ke segala arah saat menggunakan alat berat, dan memastikan kebebasan melihat tersebut terjamin adalah hal yang sangat penting dalam pelatihan berbasis simulator.

Kita bisa mencapai kebebasan melihat ini menggunakan layar monitor besar yang dipasang di depan maupun di belakang dimana operator simulator duduk. Hal ini dapat mengurangi terjadinya gejala motion sickness seperti penglihatan samar, vertigo, pusing, sakit kepala, dan lainnya. Dari segi biaya, harga tiga atau empat layer monitor dapat memiliki nilai yang sama seperti harga headset VR.

Beberapa argumentasi yang mendukung pernyataan multiple display lebih baik daripada headset VR dalam aplikasi pada pelatihan berbasis simulator:

1. Menggunakan headset VR membatasi penglihatan kita pada dunia yang tersimulasi. Akibatnya, kita akan mengalami kesusahan dalam menggunakan alat mengemudi seperti setir dan tuas di dunia.

2.Menggunakan headset VR dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan ketidaknyamanan, akibat berat headset VR dan pemasangan headset yang terlalu ketat.

3.Headset VR harus dihubungkan kepada suatu komputer melalui kabel. Hal tersebut dapat mengganggu pergerakan kepala kita.

4.Headset VR hanya menunjukkan apa yang terjadi kepada pengguna atau operator saja, sehingga instruktor tidak dapat melihat apa yang terjadi di dalam software simulasi. Menambahkan layer monitor eksternal dapat menjadi solusi, akan tetapi dapat menyebabkan penambahan biaya.

5.Karena tampilan layer dari headset VR sangat dekat dengan mata, pengguna dapat melihat tampilan dengan kondisi pixel yang pecah pixelated. Hal ini bukan masalah jika menggunakan multiple display, karena jarak antara layer monitor dan operator cukup jauh.

6.Ketika sebuah institusi menggunakan headset VR untuk melakukan pelatihan berbasis simulator, setiap kali adanya pelatihan akan menyebabkan pengaturan headset VR harus disesuaikan berulang kali dengan murid yang berbeda.


Kesimpulan
Teknologi headset VR yang tersedia pada pasar sekarang belum bisa digunakan secara baik untuk pelatihan berbasis simulator. Hal ini disebabkan headset VR yang tersedia masih terlalu primitif (masih ada ruang untuk memperbaiki teknologi), gampang mengalami kerusakan, dan cukup mahal.

Menggunakan multiple display memberikan pelaku pelatihan berbasis simulator keleluasaan untuk melakukan penyesuaian dengan biaya, konsep pelatihan, dan hal lainnya yang tidak bisa dicapai dengan mudah menggunakan headset VR.

Daftar Pustaka
[1] “Why Multiple Displays are (much) Better than VR Headsets”, P. Freedman, https://www.simlog.com/why-multiple-displays-are-much-better-than-vr-headsets/
[2] “The Science of Simulation”, MS&T – The International Defense Training Journal, Halldale Group, June 2019, https://militarysimulation.training/articles/science-of-simulation/
[3] “The Virtual Reality Head-Mounted Display Oculus Rift Induces Motion Sickness”, J. Munafo, M. Diedrick, T. Stoffregen, Experimental Brain Research, Volume 235, Issue 3, March 2017.

Artikel Populer

Menjadi Robotics Engineer

September 18, 2020
Kategori

Artikel
(4)

Biomedical
(2)

Uncategorized
(10)