fb twitter instagram youtube whatsapp
Blog > Program vokasi dan misi memajukan teknologi Indonesia

admin October 16, 2020

Program vokasi dan misi memajukan teknologi Indonesia


Sumber: Campuspedia.id

Pendidikan vokasi, menurut UUPT No.12 tahun 2012 penjelasan pasal 16 ayat 1, adalah pendidikan yang menyiapkan Mahasiswa menjadi profesional dengan keterampilan kerja tinggi. Kurikulum pendidikan vokasi disiapkan bersama dengan Masyarakat profesi dan organisasi profesi yang bertanggung jawab atas mutu layanan profesinya agar memenuhi syarat kompetensi profesinya. Pendidikan vokasi sampai saat ini masih dipandang sebelah mata oleh mayoritas masyarakat di Indonesia. Tidak jarang kita mendengar cibiran mengenai SMK, contohnya adalah seperti paham dimana mereka yang merupakan murid SMK adalah murid ‘buangan’ yang tidak diterima di SMA. Stereotip yang sama juga dapat ditemukan pada mereka yang masuk dan menekuni program D-1 hingga D-3. Mereka juga mendapatkan perlakuan dan cibiran yang sama sebagaiaman yang dirasakan oleh anak SMK. Stereotip tersebut memang mengakar kuat di masyarakat, dan kita juga tidak bisa menyalahkan sepenuhnya stereotip yang dibangun oleh populasi umum. Para peserta program didikan vokasi sering kali menjadi kaum yang termarjinalisasi. Dengan kebijakan belajar yang kadang tidak jelas, kurikulum yang tertinggal dari program sarjana, infrastruktur pendidikan yang kalah canggih, membuat para lulusan bingung dalam menentukan arah kontribusi kedepannya. Padahal, program vokasi dibangun dengan menyematkan semangat membangun masyarakat yang siap kerja dan siap diserap kedalam lapangan kerja. Kenyataannya adalah kebalikannya.

Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan, lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) mendominasi jumlah pengangguran di Indonesia yang mencapai 6,88 juta orang pada Februari 2020 lalu1. Angka ini cukup mencengangkan, walaupun ada kemungkinan bahwa jumlah pengangguran yang dicatat oleh BPS juga termasuk sejumlah siswa SMK yang telah lulus dan sedang dalam tahp mencari pekerjaan. Hal tersebut tetapi tidak mengdiskon fakta bahwa jumlah pengangguran yang merupakan lulusan SMK lebih banyak daripada jumlah pengangguran yang lulus dari tingkat SD, SMP, dan Kuliah. Indonesia memiliki kelebihan diantara negara­negara anggota G-20 yaitu Bonus Demografi yang dialami pada tahun 2020- 2030. Saat ini Indonesia memiliki 68,6% atau sekitar 181,3 juta orang berada pada usia produktif. Sumber daya manusia melimpah dapat diandal oleh Indonesia sebagai modal untuk bersaing dengan negara adi daya dan negara maju. Apalagi, jika Indonesia dapat memperbaiki sistem pendidikan vokasi sehingga dapat mempersiapkan tenaga kerja yang siap bekerja dan memiliki kemampuan yang di atas tenaga kerja negara lain. Akan tetapi, kenyataannya adalah kita masih jauh dari tenaga kerja yang mahir dalam teknologi terkini seperti mesin otomasi dan IT yang sekarang menjadi pendorong ekonomi dan transformasi lapangan kerja.

Lestari Moerdijat, pimpinan dari Media Group, menjelaskan permasalahan yang dihadapi oleh Pendidikan vokasi di Indonesia secara baik pada blog yang ia miliki<2>


“Permasalahan lain Penyelenggaraan Pendidikan Vokasi adalah
(1) Masih lemahnya komitmen bersama (unsur Tetrahelix) untuk berperan serta secara aktif dalam mendukung pelaksanaan dan penguatan pendidikan vokasi;
(2) Kurikulum pendidikan vokasi belum mampu beradaptasi dengan kebutuhan DUDI;
(3) Pendidikan Vokasi belum menjadi pilihan utama bagi calon mahasiswa dan masyarakat secara umum;
(4) Alokasi anggaran untuk penyelenggaraan pendidikan vokasi masih belum mencukupi, sementara pendidikan vokasi membutuhkan sarana prasarana yang memadai sesuai dengan perkembangan DUDI;
(5) SDM tenaga pendidik politeknik umumnya berlatar belakang pendidikan akademis;
(6) Minat masyarakat secara umum masih fokus terhadap pendidikan jangka pendek (LPK/Kursus), dan kurang mempertimbangkan jenjang karir di masa depan;
(7) Kurangnya dukungan dari pemerintah daerah dalam hal alokasi dana Beasiswa untuk calon mahasiswa kurang mampu namun ingin kuliah di perguruan tinggi vokasi;
(8) Terbatasnya dosen vokasi yang memiliki gelar S2, seperti Koki (Chef) yang juga berpendidikan S2 itu sangat susah.”

Salah satu titik permasalah yang menarik adalah bahwa adanya keterbatasan guru kejuruan, sarana dan prasarana yang kurang memadai dengan tuntutan industri, serta merubah pola pikir guru untuk mengikuti perkembangan IPTEK. Hal ini disebabkan karena sekolah selalu tertinggal oleh DUDI dalam perkembangan teknologi. Memang, seiring berkembangnya teknologi, maka industri maupun pengusaha industri akan terus mendorong akuisisi teknologi modern yang dapat membantu mencapai efisiensi, penghematan, atau target lainnya yang umumnya dikejar. Ketika industri mengimplementasi atau mencoba mengasimilasi teknologi baru (seperti teknologi yang dikategorikan dalam industri 4.0), maka para pelaku di lapangan industri memiliki dua pilihan: mencoba memahami teknologi atau akan tergantikan oleh teknologi.

Menteri pendidikan dan kebudayaan Indonesia, Nadiem Anwar Makarim, pernah menyampaikan dalam webinar bincang inspiratif Mendikbud dengan Dirjen Vokasi pada Lokakarya Kepala SMK bahwa ia setuju mengenai analogi “pernikahan” antara dunia industri dan dunia Pendidikan. Menurut nadiem, analogi tersebut menunjukkan komitmen antara vokasi dan industri bersama bersinergi dalam membangun sumber daya manusia Indonesia yang siap kerja. Sistem yang sudah dijalankan sekarang oleh program vokasi memerlukan perubahan yang sangat besar. Perubahan tersebut dimulai dari dikonkretkannya Link and Match antara dunia industri dan dunia edukasi. Sekolah dan kampus vokasi tidak hanya fokus ke penciptaan lulusan yang memiliki ijazah, tetapi menciptakan tenaga kerja yang memiliki standar keterampilan sesuai dengan lapangan kerja yang dituju dengan eksposur kepada industri atau lapangan kerja yang akan dihadapi.

Budy Sugandi menulis pada artikelnya yang berjudul Arah Pendidikan Vokasi Indonesia3:<2>


“Pilihan Mendikbud Nadiem dengan menambah direktorat baru di lingkungan Kemendikbud, yaitu Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi perlu diapresiasi. Ditjen ini menggawangi empat direktorat, yaitu Direktorat SMK, Pendidikan Tinggi Vokasi dan Profesi, Kursus dan Pelatihan, serta Kemitraan dan Penyelarasan Dunia Usaha dan Dunia In- dustri. Pasalnya, tantangan dan kebutuhan SDM di dunia industri semakin meningkat. Termasuk untuk memberesi pekerjaan rumah mindset negatif masyarakat terhadap pendidikan vokasi.”

Akankah analogi ini terealisasi dengan baik sehingga dapat membangun masa depan Indonesia dimana para lulusan SMK dan program vokasi dapat bersaing dengan pendidikan sarjana dan memberikan kesempatan untuk lulusan SMK mendapatkan porsi lapangan kerja yang lebih luas?

Sepertinya terlalu dini untuk kita nilai. Tetapi, apapun analogi yang disampaikan oleh pemerintahan pusat, para pelaku usaha dan industri harus memiliki inisiatif untuk bekerjasama dengan pelaku program vokasi agar membentuk tenaga kerja masa depan yang lebih mampu menghadapi tantangan zaman. Dengan membangun Center of Excellence, Rumah Vokasi, Balai Latihan, yang memiliki kurikulum sesuai dengan kebutuhan lapangan, serta kesadaran bahwa dunia selalu berkembang dan teknologi akan selalu mempengaruhi cara kita bekerja, Indonesia bisa saja menyadari mimipi ini 10 tahun lagi.

Sumber : https://katadata.co.id/agustiyanti/finansial/5eb12802ca798/tingkat-pengangguran-lulusan-smk-paling-tinggi

Artikel Populer

Menjadi Robotics Engineer

September 18, 2020
Kategori

Artikel
(4)

Biomedical
(2)

Uncategorized
(10)