fb twitter instagram youtube whatsapp
Blog > Istilah “Robot” dan sejarahnya

admin November 3, 2020

Istilah “Robot” dan sejarahnya

Apa kira-kira reaksi pertama kalian saat kalian mengetahui bahwa konsep robotika sudah ada dari zaman Yunani? Betul, robotika merupakan konsep kuno yang sudah ada dari beberapa abad yang lalu. Cerita legenda kuno Yunani menyebutkan bahwa Cadmus, penemu dan raja pertama negeri Thebes, membangun artificial intelligence pertama dari gigi naga yang ia kalahkan dan menjadikannya pasukan kota Thebes. Cerita lain menyebutkan bahwa Pygmalion, figur yang ditemukan pada mitos budaya Yunani, memiliki patung bernama Galatea. Patung tersebut dibuat menggunakan bahan dari gading gajah. Suatu ketika, Pygmalion menemukan bahwa patung Galatea miliknya dapat bergerak. Cerita terakhir dari mitos Yunani yang mendeskrispikan sebuah robot menceritakan bahwa Hephaestus memiliki sekumpulan tenaga pembantu yang merupakan automata terbuat dari emas.

Walaupun demikian, cerita dan legenda seputar robotika tidak terwujudkan hingga era industri, dimana pengenalan elemen listrik dan alat elektronik seperti komputer kepada pabrik manufaktur menyebabkan munculnya ide untuk mengimplementasikan otomasi yang dapat membantu suatu tim produksi mencapai efisiensi yang tidak bisa dicapai sebelumnya. Istilah “robot” pun juga tidak ada pada zaman kuno Yunani. Istilah robot pertama kali digunakan pada suatu drama yang menceritakan manusia setengah mesin yang bekerja pada lantai pabrik dan pada akhirnya memberontak. Drama ini ditulis oleh dramawan asal republik ceko, Karl Capek, pada tahun 1921 yang berjudul R.U.R (Rossum’s Universal Robots). Pada drama ini, manusia setengah mesin ini diberikan nama robot karena kata robot diserap dari bahasa ceko yang berarti budak.

Istilah “robotics” tidak ditemukan oleh Karl Capek. “Robotics” diusung oleh penulis sains-fiksi asal Russia, Isaac Asimov. Istilah tersebut pertama kali digunakan dalam cerpen yang ia tulis pada tahun 1942 berjudul “Runabout”. Berbeda dengan Capek, Isaac Asimov memiliki pandangan lebih positif mengenai robotika. Menurut beliau, robotika memiliki peran dalam masyarakat sebagai pemberi bantuan manusia dalam melakukan aktivitas yang sulit dilakukan oleh manusia.

Di era modern ini, menjawab pertanyaan “apakah itu robot?” bukan merupakan hal yang mudah. Beberapa definisi yang dapat dianut:
• “Manipulator yang dapat diprorgram ulang dan memiliki kemampuan untuk menggerakan material, bagian, alat, atau benda special menggunakan gerakan yang sudah terprogram untuk melakukan bermaca hal” -Robot Institute of America, 1979
• Sebuat alat otomasi yang dapat melakukan aktivitas yang umumnya merupakan aktivitas manusia atau mesin dalam bentuk yang menyerupai manusia” -Kamus Webster
•“Bidang yang mempelajari mengenai koneksi antara kecerdasan dan gerakan” -Mike Brady, Professor di MIT

Robot modern paling pertama dikembangkan oleh George Devol pada sekitar tahun 1950-a. Sebuah penemu dari Louisville, Kentucky, beliau menemukan dan mematenkan sebuah manipulator yang dapat deprogram yang ia namakan “Unimate”. Pada tahun 1960-an, seorang entrepreneur dan insinyur, Joseph Engleberger, mengakuisisi paten miliki Devol dan membuat robot industri yang dipasarkan oleh perusahaannya, Unimation. Oleh karena itu, Engleberger dikenal sebagai “Bapak Robotika”



Membaca cerita mengenai asal-muasal istilah robotika memberikan saya pandangan yang baru, bahwa diawal abad kehidupan manusia sudah memiliki hasrat untuk mengotomasi banyak aktivitas di sekeliling lingkungannya, seperti Hephaestus dan pembantu automatanya. Implikasi moral mengenai apakah penggunaan robot untuk masyarakat umum merupakan hal yang baik atau tidak merupakan berdebatan yang sudah muncul sejak dahulu kala. Di zaman sekarang, robot dilihat dari dua lensa yang berbeda. Di satu sisi, robot dapat membantu produksi dan efisiensi suatu pabrik manufaktur. Di sisi lain, robotika memiliki implikasi yang sangat menyeramkan bagi masa depan lapangan kerja. Uniknya, Isaac Asimov memprediksi bahwa di era yang akan datang robotika akan memiliki kesadaran sendiri, sehingga ia menulis 3 hukum alam robotika:

Law One: A robot may not injure a human being or, through inaction, allow a human being to come to harm.
Law Two: A robot must obey the orders given it by human beings except where such orders would conflict with the First Law.
Law Three: A robot must protect its own existence as long as such protection does not conflict with the First or Second Law.


Sumber : Deborah Levine Gera (2003). Ancient Greek Ideas on Speech, Language, and Civilization. ISBN 978-0-19-925616-7.

Artikel Populer

Menjadi Robotics Engineer

September 18, 2020
Kategori

Artikel
(4)

Biomedical
(2)

Uncategorized
(10)